Tingkatkan Edukasi DBD, Bayer Kembangkan Mosquito Learning Lab

Kesehatan

JAKARTA – KASUS penyakit DBD telah meningkat signifikan di seluruh dunia dalam 50 tahun terakhir dengan kenaikan hingga 30 kali lipat. Menurut data WHO dan Kemenkes RI, di Asia Pasifik tercatat 15,2 juta kasus DBD terjadi pada 2016.

Sementara sejumlah 202.314 kasus, termasuk 1.539 kematian, dilaporkan terjadi di Tanah Air. Diperkirakan 100 juta orang terinfeksi DBD setiap tahunnya, di mana 50% populasi dunia hidup di daerah berisiko demam berdarah. Saat ini belum ada pengobatan khusus untuk demam berdarah atau demam berdarah akut.

DBD berat telah menjadi penyebab utama rawat inap dan kematian di antara anak-anak dan orang dewasa di Asia dan Amerika Latin. Upaya melawan penyakit yang ditularkan vektor ini membutuhkan dukungan berbagai pemangku kepentingan yang melibatkan sektor swasta maupun publik, akademisi, pemerintah, serta organisasi nonpemerintah.

Ancaman DBD atau virus zika atau malaria tidak mengenal batas dan menjadi perhatian semua orang. “Bayer selalu menjadi bagian dari perjuangan melawan penyakit yang ditularkan nyamuk dan merupakan mitra aktif dalam membina kesehatan masyarakat di seluruh dunia melalui pengendalian vektor sejak 1950-an,” kata Frederic Baur, Head of Vector Control Environmental Science Bayer Crop Scienc

Untuk memperkuat inisiatif yang meningkatkan kesadaran terhadap DBD serta program edukasi bagi masyarakat, Bayer mengembangkan Mosquito Learning Lab. Ini adalah alat pembelajaran online untuk membantu menyampaikan pesan kepada seluruh anggota masyarakat, mulai anak sekolah hingga keluarga.

“Komunitas lokal memiliki peran yang sangat penting dalam mengurangi jumlah dan mencegah penularan penyakit. Menurut Kemenkes, anak sekolah berusia 5-14 tahun termasuk yang paling rentan terkena DBD,” papar Yudi Clements, Regional Key Account Management and Country Manager Bayer Crop Science. Hal ini disebabkan kelompok usia tersebut tengah mengikuti kegiatan sekolah ketika nyamuk justru dalam kondisi paling aktif. Untuk diketahui, setelah digigit nyamuk pembawa virus dengue, gejala demam berdarah tidak langsung muncul, tetapi menunggu masa inkubasi sekitar 3-14 (biasanya 4-7) hari.

Demam berdarah ringan umumnya ditandai demam tinggi yang mendadak, sakit kepala hebat, rasa sakit di belakang mata, otot, serta sendi, hilangnya nafsu maka, mual, dan ruam pada permukaan kulit. Sedangkan pada demam berdarah yang parah atau dikenal dengue hemorrhagic fever, dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba (shock), dan kematian. Pada 2017, Bayer memperkenalkan Mosquito Learning Lab di SDN Baru 7 di Cijantung sebagai bagian dari kegiatan ASEAN Dengue Day.

Alat ini memungkinkan anak-anak belajar fakta penting DBD dan nyamuk Aedes Aegypti serta bagaimana mencegah munculnya tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakkan nyamuk di lingkungan sekolah dan rumah mereka.

34 thoughts on “Tingkatkan Edukasi DBD, Bayer Kembangkan Mosquito Learning Lab

  1. Pingback: mo thay heo
  2. Pingback: useful link
  3. Pingback: UNICCSHOP
  4. Pingback: thenaturalpenguin
  5. Pingback: click here to read
  6. Pingback: blazing trader
  7. Pingback: Earn Fast Cash Now
  8. Pingback: Panzer Arms AR-12
  9. Pingback: unicc
  10. Pingback: valid shop cvv
  11. Pingback: buy cvv dumps
  12. Pingback: replica watches
  13. Pingback: 안전공원
  14. Pingback: Library
  15. Pingback: Köp Lyrica online
  16. Pingback: pialapoker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *